Rabu, 02 Januari 2013

Think Before Act

Assalamu'alaikum...

Aku heran, kenapa orang-orang bisa dengan mudah menahan emosi, menahan perasaan yang seharusnya diungkapkan. Bukankah memendam itu tidak baik? Bukankah akan menjadi salah paham pada akhirnya? Atau bisa jadi masalah yang berujung kekecewaan.

Aku tahu, mereka punya beribu alasan untuk dapat menjawab semua pertanyaanku. Aku penasaran, mereka mendapatkan ilmu darimana? Mereka bisa dengan tenangnya diam disaat banyak orang mencaci maki. Mereka juga sangat lembut disaat orang-orang mengeluarkan suara yang menggelegar. Dan satu lagi, mereka selalu memberikan senyuman yang tulus dan ikhlas untuk orang-orang yang puas membuat mereka sedih. Ini sih harus bilang "WOW" eh salah, yang bener "SUBHANALLAH".

Want to know deh caranya gimana sih? Mungkin bukan cara kali ya, tapi........*I hope you know what I mean*. Tapi yang pasti, kalo lagi sedih-kecewa-bete-kesel-marah-sebel-gondok-dan-benci, selain mendekatkan diri dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, bisa dengan makan, tidur, dan mendegarkan musik. Siapa yang begitu juga? ANGKAT TANGAN! *ups salah

Semoga, kita semua dapat mengontrol emosi dengan baik dan benar. Contohnya marah, kita gausah marah-marah, soalnya guru biologiku pernah bilang "Saya gamau marah, marah itu bikin rugi diri sendiri. Salah satunya pernafasan kita akan terganggu menimbulkan stoke, degup jantung juga lebih cepat dan itu tidak baik untuk kesehatan jantung. Dan bisa membuat keriput". Penjelasan lebih lanjut bisa klik disini. Yap. waktunya bilang "Iyuuuuwh" haha Iyuuuuwh is my habit. Aku yakin, kalian pasti sayang sama diri kalian masing-masing. So guys, We must think before act!

Wassalamu'alaikum...

Jumat, 21 Desember 2012

Maafkan Aku

Aku bersyukur, karena bertemu denganmu dan telah mengenalmu. Kamu adalah puzzle dalam kehidupanku. Kamu bisa membuatku mengenal dunia dan seisinya. Kamu juga yang telah memberikanku pelajaran paling berharga, yang takkan kudapatkan dimanapun.

Andaikan aku mampu mengucapkan ini semua kepadamu, pasti tak perlu lagi aku tulis di blog. Andaikan....
Tanpa kamu sadari, kedua bola mataku ini selalu menangkap wujudmu. Aku tak bisa melarang kedua bola mataku ini, maafkan aku. Mungkin, jika aku ceritakan lagi, pasti kamu takkan percaya. Kalau lidah ini selalu berceloteh tentangmu. Rasanya, mau kubungkam mulut ini. Tapi apa dayaku. Bukannya aku tak mau merubah ini semua, tapi Dia tak mengizinkanku. Dia yang selalu memberikanku nikmat ini. Aku sangat bersyukur. Terima kasih, Penguasa Seluruh Langit dan Bumi.

Percuma aku membuat artikel-artikel di blog ini tentangmu. Percuma aku terus-menerus diam. Percuma aku hanya jalan ditempat. Percuma aku seperti ini dan tidak melakukan apa-apa.
Tapi sesungguhnya, semua ini adalah caraku. Aku masih tetap bertahan dengan bantuan mereka. Aku bahagia. Aku ikhlas.

Setidaknya, aku bisa mencurahkan isi hatiku tanpa kamu ketahui. Selebihnya, aku pasrahkan kepada Dia yang telah memberikan rasa ini. Tak usah pedulikanku, aku lebih kokoh dari yang kamu bayangkan. Karena aku bersama orang-orang yang tulus menyayangiku. Tetaplah menjadi dirimu yang sebenarnya, bukan bayangan yang setiap saat berubah-ubah. Aku merindukanmu. Maafkan aku.


 
Θα σ 'αγαπώ πάντα

Jumat, 07 Desember 2012

Happy vs Sad

Kiraku, ini hanya sementara. Tak akan terulang kembali. Aku salah. Semua yang aku duga, tak benar-benar terjadi saat ini. Aku bingung. Aku mendapatkan 2 paket dalam 1 waktu. Senang dan sedih, mereka selalu bersama-sama. Seperti kutipan ini "senang dan sedih datangnya satu paket" -Milli (Milli & Nathan). Betapa setianya mereka. Tapi, bisakah mereka dipisahkan?

Aku bahagia ketika apa yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehku, membawa hatiku berdegup kencang. Membuat jantung ini semakin berdetak. Bibir ini terus-menerus tersenyum. Aura kebahagiaan selalu disekitarku dan rangkaian kata-kata pun tak mampu menjelaskan betapa bahagianya aku.

Tapi, ketika hal yang lain datang. Aku tak lagi merasa mood up. Ah, selalu saja pikiran negatif mencoba masuk ke ruang berpikirku. Anehnya, aku agak terpengaruh. Memang tak mudah menjaga. Ada pernyataan yang bilang "mempertahankan lebih sulit daripada mendapatkan" setuju gak? Bagiku sih bukannya sulit, tapi hanya kurang mudah :-D


Aku bersyukur, karena kau telah hadir kembali di kehihidupan nyataku. Membawa semangat dan motivasi baru bagiku. Menjadikanku orang yang tak pantang menyerah, selalu berusaha semampuku. aku juga bersyukur, karena seseorang telah memberikanku nasehat "Itu karena Allah sayang sama kamu, Allah gak mau kamu terlalu seneng, takut kamu jadi lupa sama Allah. Makanya Allah kasih kamu sesuatu hal yang kurang baik, agar kamu selalu mengingat-Nya kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun".




Oiya baca yang ini juga :-D

Rabu, 14 November 2012

Tidak Cukupkah?

Aku bagaikan sumbu dalam lilin.
Aku bagaikan lampu dalam bohlam.
Tapi mengapa kau mengabaikanku?
Mengapa kau sama sekali tak melihatku?

Memang, aku bukan para pejuang yang berani dimedan perang.
Aku juga bukan pahlawan yang sanggup merelakan nyawaku.
Tapi, tidak cukupkah secangkir kepercayaan kuberikan padamu?
Tak cukupkah secangkir kerelaan kubagi denganmu?

Heran, sangat heran.
Maumu apa?
Mungkin aku terlalu sulit memahamimu.
Apalagi sampai mengetahui isi hatimu.

Ya.
Aku tak bisa.
Cukup sampai sini.
Aku sudah mengetahui dirimu yang sebenarnya.

Sabtu, 20 Oktober 2012

Mengapa Tak Sesuai Harapanku?

Sejak saat itu, entah mengapa bibir ini jadi sulit untuk membuka. Aku heran, mengapa terlalu kuat sampai-sampai aku tak bisa membukanya? Berhari-hari, berminggu-minggu, kiraku sudah mulai terbuka,tapi belum. Sungguh, aku tak tahu harus melakukan apa lagi. Aku sudah kehabisan cara. Aku pasrah.

Selanjutnya, mataku. Entah mengapa mataku sulit untuk mengeluarkan tetesan-tetesan air sebening embun pagi. Tak seperti biasanya, begitu mudah aku menjatuhkannya. Aku takut. Takut jika rasa ini mulai pudar. Takut jika memang rasa ini bukan seutuhnya yang kuberikan. Takut jika aku benar-benar ingin melupakannya.

Seharusnya aku bahagia. Bukankah seperti ini yang selalu aku inginkan? Bukankah aku selalu menantikan memiliki perasaan seperti ini? Tapi mengapa berbeda? Mengapa? Seharusnya aku bangga karena aku sudah mampu mengontrol diriku sendiri untuk tidak memiliki perasaan yang berlebihan. Mengapa tak sesuai inginku? Mengapa tak sesuai harapanku?